Selasa, 14 Maret 2017

Desa Wisata Osing


Desa Wisata Osing berada di Desa Kemiren , Kecamatan Glagah di Kabupaten Banyuwangi. Penduduk di desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adatistiadat dan budaya khas sebagai satu suku, yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Pemerintah menetapkannya , sebagai daerah eagar budaya dan mengembangkannya sebagai Desa Wisata (Suku) Using (Osing)


Memasuki Desa Kemiren benar-benar terasa berada di tempat  yang patut dinikmati sebagai satu pengalaman baru  Bangunan mmah berjajar dan saling berdekatan di komplek pemukiman yang padat penduduk dt sepanjang jalan menyambut wisatawan sebelum tiba di tempat rekreasi.a
Tak jauh dari pemukiman Pendu.auk terhampar persawaan dan pepohonan hijau yang  meungi jalandesa.duduk Desa Kemiren adalah petani hanya sebagian kecil berprofesi’pedagang.
Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematangsawah.Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar.
Itulah kehidupan sehari-hari masyarakat Osing yang mendorong pemerintah daerah memetapkannya sebagai cagar budaya dan desa wisata.
Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun anjungan wisata yang terletak di utara desa. anjungan yang berdiri di atas lahan 2,5 hektar ini dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. Anjungan ini dikonsep menyajikan miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan memamerkan hasil kebudayaan.
Di tempat rekreasi dibangun fasilitas wisata seperti kolam renang, tempat bermain, dan tentu saja ada bangunan rumah khas masyarakat Osing serta bangunan museum modern yang mamajang berbagai perlengkapan dan pernik budaya Osing. Cukup dengan uang Rp 5.000 untuk tiket masuk, wisatawan bisa menikmati fasilitas rekreasi sepuasnya.
Posisi Desa Kemiren sangat strategis menuju wisata Kawah Ijen. Desa ini merniliki luas 117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya dibatasi oleh dua sungai, Gulung dan Sobo yang mengalir dari barat ke arah timur. Di tengah-tengahnya terdapat jalan aspal selebar 5 m yang menghubungkan desa ini ke kota Banyuwangi di sisi timur dan pemandian Tamansuruh dan ke perkebunan Kalibendo di sebelah barat. Pada siang hari, terutama pada hari-hari libur, jalan yang membelah Desa Kemiren cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang menuju ke pemandian Tamansuruh, perkebunan Kalibendo maupun ke lokasi wisata Desa Osing.
Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi Suprayogi mengatakan, pemerintah kabupaten berkomitmen akan memperbaiki sarana dan prasarana pendukung pariwisata, termasuk di dalamnya SDM. “Jika Banyuwangi sebagai jantung diujung timur telah berdetak maka sektor-sektor lain akan memperoleh manfaatnya, termasuk daerah sekitarnya,” ujarnya.
Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mempertemukan pengusaha Bali dan Banyuwangi yang dikemas dalam Gathering Night in Bali. Dengan harapan meningkatkan kunjungan wisata ke Banyuwangi  “Selain itu kami juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur misaInya melalui Majapahit Travel Fair yang akan berlangsung bulan Mei.”
Sejarah Masyarakat Osing
Arsip osing-kemirenan,..Desa.yang berada di ketinggian 144 m di atas p ermukaan laut yang termasuk dalam topografi rendah dengan curah hujan 2000 mm/tahun sehingga memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini rnemang cukup enak dan menarik dari sudut suhu udara dan pemandangan untuk wisata.
Mengamati bentuk rumah di Kemiren sepertinya sarna. Namun jika diamati lebih teliti ada perbedaan pada atap rumah yang ternyata menandai status penghuninya. Rumah yang beratap empat yang disebut ‘tikel balung’ melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap. Rumah ‘crocogan’ yang beratap dua mengartikan bahwa penghuninya adalah keluarga muda dan atau keluarga yang ekonominya relatif rendah, dan rumah “baresan’ yang beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, secara ma·teri berada di bawah rumah bentuk ‘tikel balung’ .
Arsip osing-kemirenan.,Hampir di setiap rumah ditemukan lesung (alat penumbuk padi), dan gudang tempat menyimpan sementara hasil panen. Di beberapa sudut jalan tampak gubuk beratapkan ilalang, yang dibangun di ujung kaki-kaki jajang  (bambu, dalam bahasa Osing) yang tinggi. Bangunan ini digunakan oleh masyarakat untuk “cangkruk” sambil mengamati keadaan di sekeliling desa. Pada masa lalu, gubuk seperti ini sengaja dibangun untuk memantau kedatangan “orang asing” yang mencurigakan.
Arsip osing-kemirenan.,Sejarahnya, suku Osing saran seperti suku Tengger, yang merupakan masyarakat yang setia kepada Raja Majapahit yang menyelamatkan diri ketika kerajaan diserang dan runtuh sekitar tahun 1478 M. Sebagian berhenti di pegunungan Tengger (sekarang menjadi kelompok masyarakat suku Tengger) di Probolinggo dan sebagian melanjutkan perjalanan hingga ke ujung timur P Jawa (Banyuwangi).
Arsip osing-kemirenan.,,
Ada pula Orang-orang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat budaya maupun bahasanya. Desa Kemiren lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah dan hutan milik penduduk Desa Cungking yang merupakan cikal-bakal masyarakat Osing. Hingga kinikelompok yang terus menyeberangi selat (Bali). Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ke ujung timur Jawa ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.
Arsip osing-kemirenan,,,Desa Cungking juga masih tetap ada. Letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja, saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota.
Saat itu, masyarakat Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari ten tara Belanda. Para warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian. Maka dari itulah desa ini dinamakan Kemiren. Pertama kali desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan bangsawan.
Arsip osing-kemirenan,,Seperti halnya masyarakat suku Tengger, masyakat Osing di Kemiren bukan masyarakat eksklusif yang menutup diri seperti suku Badui. Di satu sisi, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan jaman, seperti tampak pada eara berpakaian dan arsitektur rumah masa kini. Tapi di sisi lain, mereka kukuh menjalankan tradisi nenek moyang, mulai kehidupan sehari-hari sampai yang sacral seperti perkawinan sekalipun.
Cagar Budaya
Desa Kemiren telah ditetapkan sebagai Desa Osing yang sekaligus dijadikan cagar budaya untuk melestarikan keosingannya. Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai eagar budaya Osing. Banyak keistemewaan yang dimiliki oleh desa ini di antaranya penggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Osing.
Kekhasan kehidupan dan pemukiman penduduk serta adat-istiadat suku Osing menjadi modal utama pemerintah daerah membangun Desa Wisata Osing. Wisata Osing yang sebenarnya adalah wisata budaya. Fasilitas rekreasi hanya merupakan tambahan yang dibangun sebagai pelengkap
Coba berkunjung ke desa ini pada saat diselenggarakan upacara adat “Ider Desa” misalnya, maka paket wisata budaya di Kemiren sangat lengkap.
Para ahli sejarah lokal cukup yakin bahwa julukan “Osing” itu diberikan oleh para imigran yang menemukan bahwa kata “tidak” dalam dialek lokal adalah “Osing”, yang berbeda dari kata “ora” dalam bahasa Jawa. Orang yang sebenarnya Jawa itu kini disebut Osing saja atau juga disebut Jawa Osing.
Ini memiliki ciri khas yaitu ada sisipan “y” dalam pengucapannya. Seperti contoh berikut ini: madang (makan) dalam bahasa Osing menjadi “madyang”, abang (merah) dalam bahasa Osing menjadi “abyang”. Masyarakat desa ini masih mempertahankan bentuk rumah sebagai bangunan yang memiliki
Keunikan lainnya terdapat pada tradisi masyarakat yang mengeramatkan situs Buyut Cili, tiap malam Senin dan malam Jumat warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa “pecel pitik” atau yang bias a kita kenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar di situs Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya.
Pendatang yang bermalam di desa ini juga dianjurkan untuk berziarah ke situs Buyut Cili guna meminta izin demi keselamatan dirinya serta dilancarkan urusannya selama berada di Desa Kemiren Buyut Cili ini dipercaya bisa mengabulkan permintaan masyarakat yang berziarah, asalkan permintaan tersebut bersifat baik. Salah satu caranya adalah dengan meminta berbagai bunga yang ada di makam tersebut kepada penjaga makam kemudian bunga tersebut dicampur dengan air untuk diminum tapi sebelumnya harus membaca basmalah dan shalawat 3x .  :.
 Upacara Adat:
  • Sedekah Syawal
  • Sedekah Penampan
  • Sedekah Kupatan
  • Barong ider bumi
  • Tumpeng sewu
  • Reba Wekasan (nyelameti banyu)
  • Adeg-adeg tandur
  • Selametan melecuti pari (saat padi hamil)
  • Selametan pari (akan panen)
  • Selametan sapi (selesai membajak sawah)
  • Selametan kebonan
  • Selametan jenang sumsum .
  • Selametan jenang lemu
  • Selametan Syuroan
  • Selametan nduduk lemah
  • Selametan masang suwunan
  • Selametan ngebangi umah
Seni Tari dan Musik:
  • Gandrung
  • Kuntulan
  • Barong
  • Gedhogan
  • Mocoan Ion tar yusuf
  • Burdah
  • Jaran kencak
  • Kiling
  • Angklung paglak
  • Angklung caruk
  • Angklung tetak
  • Angklung Blambangan
  • Kenthulitan
  • Seni ukir
  • Tenun abaka
  • Tulup
  • Seni arsitektur rumah Osing
  • Seni kerajinan pembuatan biola gandrung
  • Seni kerajinan pembuatan barong Osing
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas ditulis oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume IV, No, 40, April, 2012 
Dan di copy oleh saya sebagai tugas kuliah, maafkan dan terimakasih sudah membaca.

Gili Trawangan

Gili Trawangan adalah yang terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk wisatawan yang paling beragam; kedai "Tîr na Nôg" mengklaim bahwa Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang ada bar Irlandia-nya. Bagian paling padat penduduk adalah sebelah timur pulau ini.
Trawangan punya nuansa "pesta" lebih daripada Gili Meno dan Gili Air, karena banyaknya pesta sepanjang malam yang setiap malamnya dirotasi acaranya oleh beberapa tempat keramaian. Aktivitas yang populer dilakukan para wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI), snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak, dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau.
Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat.
Kelebihan Gili Trawangan dibandingkan dengan pantai lain adalah kita dapat menikmati sunset dan juga sunrise sekaligus di pantai ini! Hal ini terjadi karena Gili Trawangan memiliki pantai yang menghadap timur dan menghadap barat, dan jaraknya tidak terlalu jauh. Sehingga baik sunrise maupun sunset dapat kita nikmati di pantai ini.
Di Gili Trawangan juga kita dapat melihat kesenian bela diri tradisional yang bernama presean atau stick fighting yang biasanya dipertontonkan disekitar pasar seni Gili Trawangan. Kegiatan paling favorit dari para wisatawan di Gili ini yaitu Scuba Diving, Snorkeling, bermain kayak, dan berselancar.

Sejarah Gili Trawangan

Dahulunya pulau ini pernah dijadikan tempat pembuangan narapidana. Pada waktu itu karena semua penjara sedang penuh, raja yang waktu itu berkuasa membuang 350 orang pemberontak Sasak ke pulau ini. Baru sekitar tahun 1970-an pulau ini dijadikan tempat persinggahan orang orang Bugis dari Sulawesi yang kemudian menetap turun temurun disini bersama warga Sasak dan Bali.

Aktivitas yang bisa dilakukan apabila berkunjung kesini

1.     Berenang
Akan sayang sekali jika pantai di Gili Trawaangan yang jernih tidak anda manfaatkan untuk berenang. Anda bisa berenang dengan suka hati bermain-main dengan kemilau air hijau disana. Tapi ingat ya, jangan sampai jauh ke tengah apalagi jika melewati rambu-rambu yang ada karena hal itu bisa berbahaya.
2.     Menyelam
Jika anda memiliki seritifikat menyelam, sebaiknya anda harus mencoba aktivitas diving di pantai karena anda pasti akan suka dengan kehidupan bawah laut disana. Anda bisa merasakan berenang diantra ikan-ikan kecil dan terumbu karang yang indah. Wah, menakjubkan bukan? Tapi jika anda tidak memiliki sertifikat diving, anda tetap bisa meyelam asalkan menjalani kurus singkat di discovery scuba diving.
3.     Water sport
Ada lagi aktivitas seru lainnya yang berhubungan dengan olahraga air. Jika anda ingin bermain air namun tidak ingin terlalu berbasah-basah, anda bisa naik banan boat, jet sky atau pun lainnya. Banyak kok hotel yang juga menyediakan jasa water sport. Melakukan water sport bersama orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat pasti akan semakin menyenangkan.
4.     Bersepeda
Melakukan aktivitas sepeda santai di pagi atau sore hari di Gili Trawangan juga akan membuat hari anda berlalu indah. Anda bisa bersepeda menyusuri tepi pantai sambil memandang deburan ombak. Sesekali menuntun sepeda sambil menunggu sunrise atau sunset pasti juga akan jadi hal yang menyenangkan. Udara segar dan bebas polusi di tempat tersebut tentunya juga akan membuat anda lebih santai dalam mengendarai sepeda dan benar-benar merasakan berbaur dengan alam.
5.     Jalan Kaki
Jalan kaki merupakan olahraga yang baik lho untuk kesehatan tubuh. Jadi tak ada salahnya jika anda liburan sambil menerapkan kebiasaan berjalan kaki. Anda bisa berjalan kaki menuju pantai dan menyusuri tepi pantai. Jalan kaki diantara deburan ombak yang akan membuat kaki berkcipak basah juga seru dilakukan.
6.     Naik Cidomo
Jalan-jalan mengelilingi Gili Trawangan sore hari dengan cidomo merupakan hal menyenangkan yang juga bisa anda coba. Anda jadi bisa bersantai sekaligus menikmati pemandangan sore hari di atas kereta kuda bersama keluarga dan sahabat anda.
7.     Berfoto
Sesi berfoto juga merupakan aktivitas penting yang tak boleh anda tinggalkan. Memang sih dari sekian banyak aktifitas lainnya, kegiatan berfoto jadi tidak terlalu penting bagi anda yang tak suka narsis di depan kamera. Tapi foto nantinya akan terasa kegunaannya setelah anda sudah meninggalkan tempat ini. Kalau pun anda tidak mau berfoto selfie, anda bisa mengambil gambar pemandangan alam disini yang nantinya akan menjadi saksi kalau anda pernah ke Gili Trawangan.
8.     Berkuda
Di Gili trawangan juga ada istal tempat pacuan kuda, yang terknal adalah sunset stables dan stud tables. Mengendarai kuda di tempat seindah Gili Trawangan pasti akan sangat mengasyikkan. Jika ingin berkuda anda harus menyediakan dana Rp.250.000/ jamnya.
9.     Berwisata Kuliner
Tak lengkap rasanya jika anda hanya menikmati pemandangan alam tanpa mencoba makanan enak yang ada di Gili Trawangan. Sesekali sempatkanlah berjalan-jalan ke kafe untuk berburu makanan lezat di tempat ini. Kebanyakan kafe memang menjual makanan asing, diantaranya: menu makanan cina, menu makanan amerika, dll. Tapi jika anda tidak suka dengan menu-menu tersebut, jalan-jalan saja di tempat yang banyak terdapat pedagang kaki lima dan anda pun bisa menikmati es krim di pinggir jalan, jus, rujak, atau pun makanan yang tak kalah enak lainnya.

sumber: https://id.wikipedia.org